Lahan Terbuka Perlu Pemanfaatan, Inilah yang IPNU Kemloko Lakukan

Lereng Sumbing merupakan salah satu daerah subur untuk pertanian. Meliputi daerah Kemloko, Ngaditirto, Banaran, Lamuk, Tlilir, serta desa lain yang berada pada sudut sebelah tenggara. Hal tersebut tidak lantas luput dari perhatian remaja Kemloko yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ranting Kemloko untuk memanfaatkannya.

Beberapa jenis sebut saja sayur hijau dan tanaman hortikultura masih dikembangkan oleh penduduk. Inisiasi mengembangkan salah satu jenis tanaman dengan permintaan yang cukup tinggi telah berhasil dilakukan. Bawang merah menjadi pilihan. Anung sebagai koordinator kegiatan yang dinamakannya "brambangisasi" menyatakan bahwa upaya penanaman bawang merah tidak harus dengan cara konvensional melibatkan lahan yang luas dan biaya besar, sebagai pemantik ia beserta anggota yang lain menawarkan cara minimal dengan harapan hasil maksimal.

"Kami mencoba memanfaatkan lahan terbuka di halaman gedung sekretariat untuk bawang merah. Ke depan jika ini (brambangisasi) berhasil, tentu tanaman lain layaknya jahe, bawang putih, atau tanaman hias patut dipertimbangkan prospeknya." tandasnya.

Integrasi Program Berbasis Lingkungan

Anung juga mengungkapkan bahwa program yang sudah ia lakukan pada Rabu (8/1) akan berlanjut dengan media yang lebih ramah lingkungan. "Kantong plastik menjadi permasalahan di banyak komunitas. Kami mencoba melihat hal tersebut sebagai peluang. Supaya tidak menambah jumlah sampah, kami akan memanfaatkan wadah bekas pakai dan tidak merusak lingkungan." terangnya.

Harga bawang merah yang stabil serta perawatan yang tidak terlalu rumit menjadi salah satu alasan. Bawang merah (allium cepa fa ascallonicum) adalah jenis tanaman yang biasa digunakan untuk masakan dan campuran obat-obatan. Meskipun jumlah yang dikembangkan masih dalam skala kecil, tetapi keberanian untuk mencoba inilah yang perlu mendapat apresiasi. Terhitung 225 kantong untuk media tanam bawang merah dan 50 sisanya untuk tanaman loncang.

Konsep ATM

Dalam bisnis, ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) adalah hal yang lumrah. Pentingnya mempunyai referensi yang prospektif bisa jadi hal yang menguntungkan bagi banyak pihak. Termasuk program "brambangisasi". "Ranting lain sudah melakukan pemanfaatan lahan dan bahkan daur ulang sampah, maka kami tidak mau tertinggal untuk ikut menyumbangkan kontribusi. Kalau di ranting desa yang lain ada penanaman jahe dalam media yang minimalis juga, nanti waktu panen penyelanggara yang menjualkan dan mencari pangsa pasarnya. Polanya bisa kami tiru." ujar Dul Majid sebagai tim penggiat.

Sekalipun jumlah kantong media tanam belum dalam hitungan ribuan atau skala besar, Anung beserta anggota lain beritikad baik dengan pengorganisasian dan per tahap. Mulai dari perencanaan, eksekusi, dam evaluasi. Perencanaan meliputi penyatuan gagasan dan kesepakatan di antara para anggota, kemudian disetujui. Eksekusi dengan melengkapi peralatan dan media tanam, tiba hari yang telah ditentukan dengan bergotong royong mewadahi tanah dan dicampur pupuk kandang.

Tahap berikutnya penanaman dan penyiraman, juga dilakukan bersama. Evaluasi setelah penanaman dan pencatatan untuk bahan statistik sederhana. "Kegiatan ini kami fokuskan bersama keluarga Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) untuk menggugah semangat walaupun masih dalam kondisi pandemi, tetapi memang harus diisi dengan aktivitas bermanfaat." ujar Majid. Ia juga mengatakan jika program ini tidak berhasil, maka bisa dipetik pembelajaran salah satu risiko bisnis. "Harapannya tidak mandek, syukur berlanjut dan diteruskan kepengurusan berikutnya." katanya.