Tradisi Tiada Henti

Itu mungkin judul cerpen yang sampai saat ini tidak akan habis kita kupas. Sebagai warga Nahdlatul Ulama kita diwajibkan takdim terhadap para Muasis Kyai sepuh dikalangan warga NU, sehingga dalam langkah dan tindakan yang berurusan dengan Jamiyah kita wajib untuk sowan dan meminta saran, masukan serta arahan kepada para kyai sepuh.

Demikian yang dilakukan K.H Ahmad Saefudin karena tahun ini beliau (ketiban sampur) terpilih menjadi Nahkoda organisasi Nahdlatul Ulama sebagai ketua Tanfidziah Ranting kelurahan Sapuran, Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo. Meskipun beliau belum dilantik sudah banyak program yang menjadi prioritas dan perlu pembenahan-pembenahan baik skala kecil maupun besar di ranting Sapuran.

Beliau sadar bahwa tugas yang akan di ayahi (dilaksanakan) sangatlah tidak mudah maka dari itu hal pertama yang beliau lakukan adalah sowan kepada kyai- kyai sepuh di Sapuran. Kyai Mukti Kamal yang lenggah wonten Gunung Pitik Sapuran Wonosobo menjadi rujukan pertama yang disowani ketua Tanfidz Ranting Sapuran.

Beliau merupakan salah satu tokoh dan orator yang totalitas tanpa batas, sampai pada usianya yang sudah sepuh beliau masih semangat dalam mengurus jamiyah Nahdlatul Ulama. Banyak motivasi, ide dan gagasan yang beliau utarakan diantaranya "kowe bocah nom-nom kudu semangat ngurusi NU nek hudu kowe sopo meneh, aku iki uwis tuo ora mangsane playon koyo dek mbiyen jaman iseh nom"

Nasehat itu seakan memompa semangat para pemuda agar lebih giat lagi berhikmad kepada NU. Selain itu beliau memberi ilmu yang bagi kami sangat luar biasa sulit untuk kita aplikasikan dalam kehidupan kita, beliau memberi nasehat agar kita harus bisa menasehati diri kita sendiri, kalau kita memberi nasehat kepada orang lain itu sangat mudah akan tetapi sangat sulit jikalau kita bisa menasehati diri kita sendiri.

Beliau memberi contoh suatu ketika dalam mimbar pengajian kyai Mukti Kamal menasehati dirinya sendiri untuk bisa melaksanakan ibadah kurban pada saat Idul Adha, pesan ini disampaikan dimimbar pengajian butuh waktu 2 tahun untuk merealisasikan nasehat tersebut untuk dirinya sendiri. Dan Alhamdulillah ditahun berikutnya beliau dapat berkurban sampai saat ini. Jangan sering menasehati orang yang paling penting adalah bagaimana kita bisa instropeksi muhasabah kepada diri kita sendiri karena tidak semua orang bisa melakukanya.

Banyak sekali nasehat yang diberikan dalam waktu yang relatif singkat, baru sekitar satu jam kita sowan tapi sudah banyak ilmu yang beliau berikan. Beliau menyarankan agar kita segera sowan kepada kyai kyai sepuh yang lain agar supaya hibungan antara para warga dan sesepuh NU tidak putus. Sebenarnya banyak sekali yang ingin beliau sampaikan akan tetapi waktu sudah malam saatnya beliau untuk istirahat, sebelum kami pamit beliau mberikan motivasi "Sapuran kudu bangkit" Nahdhah kuwi kebangkitan nek ora saiki kapan meneh, nek ora dewe sopo meneh (kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau tidak kita siapa lagi)."